Hamba Tuhan
Login





Lost Password?
No account yet? Register
Follow Us on Twitter
Find Us on Facebook
Shalom, bagaimana kabar Anda hari ini? Silahkan login atau register.
Temperament PDF Print
User Rating: / 3
PoorBest 
Friday, 10 August 2007

Temperamen adalah kombinasi pembawaan yang kita warisi dari orang tua kita.

Pembawaan ini diwariskan melalui gen. Secara sadar ataupun seringkali tidak sadar, temperamen mempengaruhi seluruh aspek tindakan kita.

Temperamen yang telah "dibudayakan" melalui pembentukan lingkungan disebut sebagai

karakter.

Sedangkan kepribadian adalah "sosok" yang kita tampilkan dalam relasi dengan  orang lain.

Bisa jadi, kepribadian sebagai "sosok" yang kita tampilkan  berbeda dengan karakter kita yang sesungguhnya. Hal ini bergantung pada  kejujuran kita dalam menampilkan diri.

 

Dengan mengerti secara sekilas perbedaan antara temperamen, karakter dan  kepribadian, kita mendapati bahwa temperamen adalah "bahan dasar" yang  membentuk karakter dan pada akhirnya kepribadian kita.

 

Teori Empat Temperamen

Teori yang sekarang mungkin paling terkenal berkenaan dengan temperamen  adalah teori empat temperamen. Teori empat temperamen pertama kali  dikemukakan oleh Hipokrates (460-370 SM). Hipokrates mengemukakan bahwa pada  dasarnya, manusia terbagi atas empat golongan temperamen : Sanguin, Koleris,  Melankolis, dan Flegmatis. Temperamen yang dimiliki oleh seseorang, menurut Hipokrates bergantung pada "cairan" yang ada di dalam tubuhnya: darah,  empedu hitam, empedu kuning, dan flegma.

 

Dalam perkembangannya, pemikiran Hipokrates pertama kali dimunculkan di  Eropa oleh seorang filsuf tenar bernama Immanuel Kant, pada tahun 1798.

Paska Immanuel Kant, teori empat kepribadian digemakan oleh Dr. W. Wundt,  yang mengadakan penelitian seksama tentang hal ini pada tahun 1879. Teori  yang sama diadopsi oleh seorang teolog besar Inggeris, yaitu Alexander Whyte, untuk menganalisa tokoh-tokoh yang ada di dalam Alkitab. Pemikiran  Hipokrates ini kembali dimunculkan pada abad ke-20 oleh tokoh-tokoh seperti : Tim Lahaye dan Florence Littauer, dan mengalami "booming", yang mungkin  sama sekali tidak pernah terpikirkan oleh Hipokrates.

 

Mengenal Empat Temperamen

Berikut ini akan dipaparkan karakteristik - positif maupun negatif - dari  masing-masing temperamen. Daftar ini disusun berdasarkan analisa La Haye dan  Littenauer.

 

Beberapa karakteristik positif dari temperamen sanguin adalah : ramah,  optimis, impulsif, bersahabat, menyenangkan, mudah terharu, rasa humor yangbaik, periang, tulus, ekspresif, penuh rasa ingin tahu dan baik dipanggung.

Sementara karakteristik negatifnya adalah : egois, sulit berkonsentrasi,  resah, tidak disiplin, mudah patah semangat, emosional, polos, dan labil.

 

Karakteristik positif dari temperamen koleris adalah : berbabakat pemimpin, dinamis, berkemauan kuat, memancarkan keyakinan, visioner, tegas, disiplin.

Sisi negatifnya adalah : cepat "panas", dingin (tidak sensitif), sarkastis, tidak simpatik.

 

Karakteristik positif dari temperamen melankolis adalah : analitis, tekun, artistik, sensitif, idealis, dan teratur.

Sedangkan sisi negatifnya adalah : perfeksionis, perimistis, berprasangka, menyimpan kebencian, dan labil.

 

Karakteristik positif dari temperamen flegmatis adalah : rendah hati, mudah bergaul, tenang, konsisten, cinta damai dan efisien.

 

Sementara,  karakteristik negatifnya adalah : lamban, pesimistis, keras kepala,

Kurang motivasi, dan cenderung kurang ekspresif.

 

Empat jenis temperamen tersebut adalah temperamen dasar yang mempengaruhi  seseorang. Pada kenyataannya, tidak ada seorang pun mungkin yang hanya  mempunyai satu jenis temperamen. Setidaknya, setiap orang adalah perpaduan yang unik antara 2 atau bahkan mungkin tiga jenis temperamen.

 

La Haye  mendaftarkan setidaknya ada dua belas perpaduan temperamen, yaitu : San-Kol, San-Mel, San-Fleg, Kol-San, Kol-Mel, Kol-Fleg, Mel-San, Mel-Kol,  Mel-Fleg, Fleg-San, Fleg-Kol, dan Fleg-Mel.

 

Perpaduan antara beberapa jenis temperamen ini tentunya mempunyai implikasi yang nyata pada daftar kekuatan ataupun kelemahan seseorang. Satu hal yang mendasar yang menjadi jelas bagi kita adalah: bahwa tiap-tiap manusia  adalah  pribadi yang unik dan tidak ada duanya.

 

Diubahkan oleh Kuasa Tuhan

Apabila kita menggunakan teori empat temperamen untuk menganalisa tokoh-tokoh dalam Alkitab, maka kita mendapati satu kenyataan yang menarik.

Kita akan mendapati Petrus si sanguin, Paulus si koleris, Musa si  melankolis dan Abraham di flegmatis, adalah orang-orang yang dipakai Tuhan dengan luar biasa. Tuhan telah memakai mereka dengan segala kelebihan dan keterbatasan yang mereka miliki.

 

Bagaimana Tuhan bisa memakai mereka menjadi alat untuk kemuliaan-Nya?

 

Tuhan tidak mengubah temperamen mereka. Tuhan tidak menjadikan mereka  menjadi  "orang lain". Yang Tuhan lakukan adalah mentransformasi temperamen tersebut.

Transformasi temperamen diberikan Tuhan dengan kepenuhan kehadiran Roh-Nya yang kudus. Petrus adalah tetap seorang sanguin, tetapi seorang sanguin yang  dipenuhi oleh Roh Allah. Demikian juga dengan Paulus, Musa dan Abraham.

Masing-masing menjadi pribadi yang optimal dengan temperamen masing-masing oleh karena kehadiran Tuhan di salam kehdiupannya.

 

Sebagai contohnya, mari kita perhatikan apa yang terjadi dengan Petrus.

Karakteristik Petrus yang sanguin terlihat ketika ia untuk pertama kalinya mendengar panggilan Mesias (Mat 4:20). Secara spontan, Ia segera berjalan  mengikut Yesus. Kecekatannya dalam bertindak juga terlihat ketika ia melihat  Yesus berjalan di atas air. Ia berkata,". Suruhlah aku datang kepada-Mu  berjalan di atas air . (Mat 14:28-29). Sifat  spontan dari Petrus juga  terlihat ketika ia melihat Yesus mengalami transfigurasi. Petrus  segera mengusulkan untuk membangun tempat kediaman bagi Elia , Musa dan  Kristus (Mat 17:1-13). Demikian juga, ketika prajurit-prajurit Romawi  menangkap Yesus, Petrus segera menghunuskan pedangnya (Yoh 18:10).

 

Salah satu karakteristik sanguin yang jelas terlihat dalam pribadi Petrus  adalah kelugasannya dalam berbicara. Ketika para murid bergumul tentang siapakah Yesus, Petrus segera berbicara dengan lugas tentang siapakah  Yesus; dan Yesus memuji kelugasan Petrus ini (Mat 16:13-20). Petrus, si  sanguin ini adalah "orang panggung" yang selalu tampil dengan kespontanan  dan kelugasannya dalam berbicara dan mengambil tindakan.

 

Sisi negatif dari karakteristik sanguin yang terlihat dalam kehidupan  Petrus adalah sifat mudah berubahnya. Penyangkalannya terhadap Yesus hingga tiga kali menunjukkan betapa mudah berubahnya Petrus (Mat 26:69-70).

Padahal sebelumnya dengan arogan ia menyatakan bahwa meskipun semua murid  meninggalkan Yesus, ia akan tetap tinggal (Mat 26:31). Arogansi Petrus ini muncul dari kecenderungannya yang bergerak ke arah kepentingan diri sendiri atau egoistis (Mat 19:27).

 

Tetapi, Petrus paska turunnya Roh Kudus adalah Petrus yang diubahkan.

Dari hati dan bibir yang labil, telah diubahkan Allah untuk menjadi pengkhotbah besar dengan hasil yang besar pula (Kis 4:4). Emosi Petrus pun juga  mengalami suatu pengubahan yang luar biasa, dari pribadi yang  meledak-ledak, menjadi seorang yang tenang dan mampu bersikap bijaksana.

Perhatikan reaksinya, ketika ia ditantang oleh para iman untuk tidak memberitakan Yesus Kristus, Paulus dengan sangat tenang dan bijaksana mengatakan,".. Kita harus lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia .." (Kis 5:29). Demikian juga akhir kehidupan Petrus. Petrus bukan lagi  seorang yang labil, tetapi dengan mantap ia menghadapi kematiannya di Roma.

 

Bagaimana Pengubahan Itu Terjadi?

Paulus menyatakan dalam 2 Kor 5:17, "Jadi, siapa dalam Kristus Kristus  adalah ciptaan baru; Yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang" (2Kor 5:17). Apa yang hendak dikatakan Paulus adalah hadirnya suatu natur baru di dalam diri setiap orang Kristen. Natur illahi dihadirkan Allah  di dalam diri setiap orang Kristen. Natur ilahi ini tidak akan melenyapkan temperamen yang ada, tetapi akan memperlengkapi dan mentransformasinya. Bukti kehadiran dari natur ini dijelaskan oleh Paulus  dalam Gal 5:22-23).

 

Paulus menyatakannya," Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai  sejahtera, kesabaran (tahan menderita, KJV), kemurahan (kelembutan, KJV),  kebaikan, kesetiaan (iman, KJV), kelemahlembutan (tidak melawan, KJV), dan penguasaan diri.” Seorang sanguin telah dilahirkan dengan rasa kasih,  sukacita dan kebaikan; sehingga Roh Kudus hanya akan memurnikan karakter ini  seturut dengan kehendak-Nya. Roh Kudus perlu untuk "memasok" damai sejahtera  untuk orang sanguin yang mudah gelisah.

 

Demikian juga tahan menderita ganti mudah menyerah, kelembutan ganti sikap grusa-grusu, sikap tidak melawan  ganti egoistis, iman ganti rasa takut/kurang aman, dan yang terutama adalah penguasaan diri ganti kurang displin.

 

Orang Koleris yang sudah dilahirkan dengan disiplin, tahan menderita dan ketekunan, membutuhkan pemurnian oleh kuasa Allah dalam hal-hal tersebut.

Kebutuhan utama yang harus "dipasok" oleh Roh Kudus adalah rasa kasih dan  belas kasihan yang akan memungkinkannya sensitif terhadap perasaan orang  lain. Demikian juga ia membutuhkan damai sejahtera ganti ketergesaan,  kelembutan ganti sikap sarkastis mereka, sikap tidak melawan ganti  kecenderungan untuk memberontak, iman ganti kepercayaan terhadap diri  sendiri.

 

Seorang melankolis dilahirkan dengan sikap lembut, penguasaan diri dan tahan menderita. Tinggal bagaimana Roh Allah memaksimalkan karakter bawaan ini. Kebutuhan utama seorang melankolis adalah kasih terhadap diri sendiri dan orang lain sebagai ganti dari sikap perfeksionisnya. Sukacita ganti kecenderungannya yang muram, damai sejahtera ganti kecenderungan ganti sikap mengkritik ataupun menghakimi serta iman ganti kekuatiran yang terus menguasainya.

 

Seorang flegmatis yang dilahirkan dengan kelembutan dan keramahan, hanya memerlukan pemenuhan Roh Allah di dalam kehidupannya sehingga karakter  tersebut betul-betul menjadi berkat bagi orang lain.

Kebutuhan utama yang  harus "dipasok" oleh Roh Allah adalah kasih dan belas kasihan terhadap Yang lain. Demikian juga daya tahan, ganti kecenderungan cepat menyerah.

Iman  ganti segala kekuatiran yang ada, dan penguasaan diri ganti kecenderungan untuk aman.

 

Dalam pemenuhan yang terus menerus oleh Roh Kudus maka keempat temperamen  ini akan menjadi temperamen yang diubahkan (ditransformasikan) oleh Allah.

Pemenuhan ini tentunya menuntut kehidupan yang dipimpin oleh Roh Allah.

Seperti yang dinyatakan oleh Paulus,"Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin Roh" (Gal 5:25).

 

Comments
Add NewSearch
Write comment
Name:
Subject:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Security Image
Please input the anti-spam code that you can read in the image.
 
< Prev   Next >