Hamba Tuhan
Login





Lost Password?
No account yet? Register
Follow Us on Twitter
Find Us on Facebook
Shalom, bagaimana kabar Anda hari ini? Silahkan login atau register.
Bersikap Katolik Tanpa Menjadi Katolik PDF Print
User Rating: / 4
PoorBest 
Saturday, 03 January 2009

Oleh: Kalvin S. Budiman, Th.M.

Gereja Katolik Roma: musuh atau saudara seiman kalangan Protestan? Pertanyaan semacam ini barangkali patut kita munculkan kembali mengingat belum surutnya perpindahan beberapa tokoh Protestan Injili ke dalam gereja Katolik Roma. Majalah Christian Century edisi 22 Agustus 2006 membahas tak kurang dari enam tokoh penting dari kalangan Protestan yang hijrah ke gereja Katolik Roma; tokoh-tokoh tersebut adalah: Reinhard Hütter, Bruce Marshall, Mickey Mattox (ketiganya adalah Lutheran), Rusty Reno, Douglas Farrow (keduanya Anglican) dan Gerald Schlabach (Mennonite). Sekitar awal Mei 2007 baru-baru ini kalangan Injili kembali dikejutkan dengan peristiwa yang sama, yaitu bergabungnya president Evangelical Theological Society, Francis Beckwith, ke dalam denominasi Katolik. Atau lebih tepatnya, menurut kata-kata Beckwith sendiri, ia “kembali” ke denominasi asalnya.

Trend semacam ini sudah berlangsung beberapa tahun sebelumnya, ketika misalnya tokoh seperti Richard John Neuhaus (Lutheran) memutuskan untuk bergabung dengan gereja Katolik dalam masa puncak karirnya dan sekarang menjadi pemimpin salah satu majalah utama gereja Katolik, First Thing. Mungkin penting juga untuk menyimak buku karangan Joseph Pearce, Literary Converts, yang memaparkan secara rinci pengaruh doktrin Katolik dalam mempertobatkan tokoh-tokoh sastra Inggris dan Amerika di akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20.

Sudah tentu alasan hijrah masing-masing tokoh di atas berbeda-beda. Namun demikian, menurut pengamatan secara pribadi, saya melihat ada beberapa alasan yang secara garis besar dapat menjelaskan mengapa bukan sesuatu yang sepenuhnya mengherankan jika tokoh-tokoh Protestan Injili memutuskan untuk bergabung dengan gereja Katolik Roma:

1. Kita perlu menyimak kembali peristiwa Reformasi di abad ke-16. Akhir-akhir ini tokoh-tokoh penting dalam studi sejarah Reformasi menunjukkan bahwa tali ikatan antara gereja Katolik Roma abad pertengahan dengan denominasi Protestan yang lahir sesudah era Reformasi ternyata tidak sepenuhnya pupus, seperti anggapan atau harapan kebanyakan jemaat Protestan pada umumnya. Pemahaman umum bahwa gereja telah mengalami kelahiran baru di era Reformasi dan terpisah secara total dari gereja Katolik Roma ternyata terbukti tidak sepenuhnya benar. Memang tidak salah bila dikatakan bahwa para tokoh Reformasi telah memisahkan diri secara tajam dari gereja Katolik dalam aspek-aspek doktrinal seperti sakramen, doktrin keselamatan, dan doktrin gereja. Tetapi tak kurang dari guru besar studi Reformasi seperti David Steinmetz (Duke University) dan Richard Muller (Calvin Seminary) meyakini bahwa dalam isu-isu teologia lainnya, moral dan etika, pastoral, dan metode berteologi, masih ada banyak tali-tali pengikat yang menyatukan gereja Katolik Roma dengan gereja-gereja yang lahir sesudah Reformasi. Diterjemahkannya dan dipublikasikannya dokumen-dokumen asli tulisan para tokoh Reformasi yang hidup sezaman atau sesudah Luther dan Calvin menyingkapkan bukti hitam di atas putih bahwa ada begitu banyak warisan gereja Katolik Roma abad pertengahan yang tetap dipertahankan, entah secara sadar atau tidak, oleh tokoh-tokoh Reformasi—tentunya dengan beberapa modifikasi dan penafsiran dari sudut pandang yang baru; seperti misalnya konsep natural law, metafisika, doktrin pemeliharaan Allah, metode skolastik dalam berteologi, serta beberapa ajaran penting Thomas Aquinas.

2. Di abad ke-20 dan abad kita sekarang ini, kita menjumpai adanya kecenderungan di antara para teolog non-Katolik dan Katolik untuk kembali ke tradisi gereja mula-mula yang selama ini senantiasa merupakan tekanan penting dalam teologi gereja Roma Katolik (dan juga Orthodox), tetapi kurang ditekankan dalam denominasi-denominasi di luar gereja Katolik. Lihat misalnya buku Catholicism, yang merupakah salah satu  tulisan monumental tokoh utama gereja Katolik, Henri de Lubac. Tulisan ini menggarisbawahi peran penting gereja mula-mula dalam mendefinisikan hakekat gereja yang “universal” (catholicum). Di kalangan non-Katolik, muncul pendekatan serupa lewat, misalnya, gerakan paleo-orthodoxy yang dimulai oleh Thomas Oden (Drew University), yang adalah seorang Methodist. Gerakan ini menekankan metode berteologi dengan memanfaatkan sumber-sumber dari patristic atau bapak-bapak gereja mula-mula. Oden juga menjadi kepala editor proyek Ancient Christian Commentary, sebuah seri eksegese Alkitab dari zaman gereja mula-mula.


Proyek ini melibatkan bukan hanya teolog dan ahli Alkitab dari kalangan Protestan, tetapi juga dari kalangan Katolik. Salah satu contoh lagi adalah proyek Evangelical Resourcement yang sedang digarap oleh Daniel H. Williams (Baylor University), yang adalah seorang Baptist. Proyek ini bertujuan untuk memakai sumber-sumber dalam tradisi gereja mula-mula dalam konteks masa sekarang. Gagasan-gagasan semacam ini juga dipopulerkan oleh sebuah gerakan yang sekarang ini dikenal dengan sebutan Radical Orthodoxy. Sebuah gerakan yang dimulai di Inggris dengan tokoh utamanya, John Milbank (Anglican) dengan tujuan menyingkapkan kembali pentingnya warisan patristic, abad pertengahan dan Renaissance, dalam berteologi di era postmodern.


Isi dari gerakan-gerakan semacam ini sudah tentu berbeda satu dengan lainnya, namun satu kemiripan dari gerakan-gerakan tersebut adalah “persinggungannya” dengan sumber-sumber teologi dalam tradisi gereja Katolik Roma.

3. Kedekatan tokoh-tokoh non-Katolik dengan gereja Katolik Roma lebih diperkuat lagi dengan menjamurnya proyek bersama atau proyek ekumenis antara gereja non-Katholik dengan gereja Katolik. Barangkali salah satu contoh yang paling populer sekarang ini adalah tercapainya Joint Declaration on the Doctrine of Justification antara World Lutheran Federation dengan gereja Katolik Roma pada 1999. Deklarasi ini berisi beberapa ketetapan yang dianggap sebagai “jalan tengah” antara konsep pembenaran iman gereja Lutheran dan konsep yang sama yang dipegang oleh gereja Roma  Katolik. Proyek-proyek ekumenis lainnya, antara lain, adalah: Evangelical and Catholic Together (dimulai pada 1992), the Ekklesia Project (sebuah proyek “friendship” yang melibatkan berbagai denominasi), Reformed Catholicism (konferensi pertama akan diadakan February 2008), dan dialog yang terus-menerus berlangsung antara denominasi Baptis dan Katolik—dua denominasi dengan jumlah anggota terbesar di Amerika Serikat (dialog ini sendiri belakangan ini ditentang dengan keras oleh sejumlah anggota gereja Baptis).


Gerakan-gerakan ekumenis semacam ini melibatkan tokoh-tokoh utama dari kalangan Protestan dan Katolik, seperti Charles Colson, J. I. Packer, Avery Dulles dan Richard John Neuhaus.

4. Salah satu alasan lain yang perlu disebutkan adalah kebangunan yang terjadi di dalam gereja Roma Katholik sendiri. Kebangunan di sini bukan dalam arti kebangunan rohani seperti yang umumnya dimengerti di kalangan gereja Protestan, tetapi kebangunan melalui gerakan ‘injili’ model Katolik, sosial dan seni. Abad ke-20, khususnya, menyaksikan munculnya kelompok ‘injili’ dalam Katolik yang bukan muncul dari bergabungnya kelompok “Injili” ke dalam gereja Katolik, tetapi gerakan “injili” yang muncul dari dalam gereja Katolik sendiri; yaitu munculnya generasi muda yang ingin mempertahankan secara seimbang kehidupan rohani yang berapi-api, keterlibatan secara aktif dalam kegiatan sosial, serta kesetiaan pada tradisi ajaran gereja Katolik Roma (lihat tulisan William L. Portier, “Here Come the Evangelical Catholics,” Communio 31 (Spring, 2004):35-65). Di samping itu, abad ke-20 juga menyaksikan munculnya dari kalangan gereja Katolik sejumlah tokoh yang memberikan pengaruh tidak sedikit dalam bidang sosial dan seni; tokoh-tokoh mulai dari G. K. Chesterton, Dorothy Day, Thomas Merton, Graham Greene, Flannery O’Conor, Czelaw Milosz, dan Walker Percy. Masing-masing berangkat dari kerangka berpikir teologi Katolik dan melahirkan karya tulis yang mendalam tetapi aplikatif dalam kehidupan sehari-hari. Mereka tidak memberikan teori yang muluk, tetapi menolong pembaca untuk berteori dan memahami kehidupan dengan kreatif. Sulit untuk dipungkiri bahwa kebangunan dalam gereja Katolik semacam ini telah memberikan daya pikat tersendiri bagi para pemimpin non-Katolik.

5. Memang di abad ini kita juga menyaksikan kebangkrutan moral yang tidak kecil yang terjadi dalam gereja Katolik. Terbongkarnya skandal phaedophilia di kalangan pastor gereja Katolik adalah aib yang sangat memalukan. Namun demikian, di tengah maraknya isu-isu moral di masyarakat, yang memecah belah berbagai kalangan Kristen, seperti pernikahan homosexual, aborsi, perang, polusi lingkungan dan sebagainya, gereja-gereja non-Katolik tetap harus memperhitungkan pendapat dari gereja Katolik Roma. Mengapa? Sulit dipungkiri bahwa dibandingkan denominasi-denominasi lainnya, salah satu kekhususan denominasi Katolik Roma adalah merumuskan prinsip-prinsip etika hampir di semua isu yang ada di masyarakat. Mereka memliki rumusan dan panduan yang jelas dan rinci dalam masalah-masalah etika yang pelik. Dan sejauh ini, banyak prinsip yang gereja Katolik Roma pegang belum tergoyahkan oleh pergeseran-pergeseran di dunia etika modern; banyak di antaranya adalah prinsip-prinsip yang oleh denominasi non-Katolik dipandang sejalan dengan Alkitab.

Jadi bagaimana kita harus bersikap terhadap mereka yang berganti haluan ke dalam gereja Katolik Roma?


Tentu saja kita merasakan hal ini sebagai sebuah kehilangan. Tetapi bagi saya secara pribadi, tidak semestinya kita memandang ini sebagai sebuah kekalahan yang patut diratapi. Selama kita menempatkan peristiwa ini di dalam konteks “catholicum,” sebagaimana yang kita proklamasikan dalam pengakuan iman rasuli ([credo] sanctam ecclesiam catholicam), hal semacam ini adalah bagian dari dinamika dalam kehidupan “keluarga Allah.” Sehingga kepada mereka yang berganti jubah Katolik, kita tetap dapat berkata, “maintenir le bon travail, frère!”

 

 

Tanggapan:

Dear Teman Teman,

 

Dari komentar rekan-rekan yang saya telah baca, saya juga sangat setuju bahwa orang-orang Kristen sama sekali tidak perlu jadi antagonis terhadap orang-orang Katolik.  Malah orang-orang Kristen harus lebih dari itu, harus menunjukan solidaritas bukan saja terhadap orang-orang Katolik tetapi juga terhadap orang-orang yang beragama lain - Muslim, Buddhist, Hindu, dan yang lainnya (Roma 12:18).  Saya tidak tau banyak mengenai sejarah gereja, tetapi pengertian saya dari sejarah gereja, tidak seharusnya ada satu orang Kristen pun yang tidak menghargai ajaran-ajaran dari bapa-bapa gereja seperti Augustine, Anselm, Aquinas, dan yang lainnya.  Lagi pula, tidak seharusnya seorang Kristen tidak menghargai tulisan-tulisan dari orang-orang Katolik seperti G. K. Chesterton, Peter Kreeft, Mortimer J. Adler, etc.  Ajaran Kristen tidak pernah penyangkal bahwa terlalu banyak ajaran-ajaran yang sama yang dipercayai dalam ajaran Katolik.  Tapi saya tidak membaca sedikit pun dari tulisan Pak Kalvin mengenai apa yang membuat seseorang menjadi orang Kristen atau menjadi orang Katolik (what makes a person a Christian or a Catholic).  Bukankah kita harus balik lagi ke masalah mulanya pada waktu Reformasi?  Bukankah kita harus lihat sejarah dan menginterpretasi sejarah dari fakta-fakta yang kita ada dan bukan dengan cara atau maksud yang kita mau, apa lagi secara anakronistik?  Tentunya semua orang juga pada umumnya ingin kedamaian, suatu tema yang sepertinya ditekankan di tulisan Pak Kalvin.  Tetapi kedamaian seperti apa yang dibicarakan?  Kalau kedamaian dalam urusan social dan etik, kita tentu harus dukung 100%.  Tapi masalah Kristen dan Katolik bukan masalah social dan etik, atau orang Kristen tidak menghargai kontribusi tulisan-tulisan orang-orang Katolik, ataupun warisan-warisan dari bapa-bapa gereja yang seakan-akan "milik" gereja Katolik; melainkan masalahnya adalah mengenai doktrin kebenaran (Justification), yang dalam ajaran Kristen dan Katolik mempunyai arti yang sangat jauh berbeda, biarpun kelihatannya/kedengarannya mirip.  Apakah keperdulian masalah social dan etik, kontribusi-kontribusi orang-orang Katolik, atau warisan-warisan dari bapa-bapa gereja bisa dijadikan dasar untuk menghilangkan perbedaan doktrin antara Katolik dan Kristen, khususnya Justification?  Menurut ajaran Kristen, seorang dinyatakan benar (declared righteous) oleh Tuhan HANYA karena iman atau Sola Fide--justification by faith alone (Roma 3:28), dan Martin Luther mengatakan bahwa gereja berdiri atau jatuh tergantung dari doktrin yang satu ini (the article by which the church stands or falls).  Tetapi menurut ajaran Katolik tidak demikian, melainkan seorang dibuat benar (being made righteous) harus karena kerjaan manusia juga dan bukan HANYA iman saja; dan salah satu ayat yang paling sering digunakan untuk mendukung posisi Katolik adalah Yakobus 2:24.  Ajaran Kristen tidak pernah bilang kerjaan itu tidak penting, melainkan mengajarkan demikian:  Walaupun kita percaya bahwa kita dinyatakan benar HANYA karena iman, tetapi iman yang membenarkan bukan sendirian [atau tanpa kerjaan].  (We are justified by faith alone, but faith that justifies is not alone.)  Dengan kata lain, dalam konteksnya, kerjaan yang dikatakan di Yakobus 2:24 bukanlah penyebab tetapi adalah effek/akibat dari dibenarkan (justification).  Menurut bapa-bapa Reformasi, Sola Fide tidak bisa ditawar, karena sudah dijelaskan di Alkitab; tetapi menurut ajaran Katolik yang masih berlaku sampai hari ini, yang berdasarkan Council of Trent 1545-1563, ajaran Sola Fide itu adalah terkutuk atau anathema (Canon 9 & 14, http://history.hanover.edu/texts/trent/ct06.html).  Mengutuk adalah bukan sesuatu yang bisa dianggap sepele atau ringan, dan sampai hari ini Katolik masih tidak mau cabut kutukan itu.  Lagi pula, yang dikutuk ajaran Katolik yang berdasarkan Council of Trent itu adalah Injil sendiri.  (The Gospel itself has been anathematized by the Council of Trent.) 

 

Karena Pak Kalvin ada menyebut nama Charles Colson dan J. I. Packer yang berhubungan dengan Evangelicals and Catholics Together (ECT), saya perlu katakan bahwa sangat tidak adil untuk menyebut Colson dan Packer terlibat ECT tanpa menyebut yang lainnya.  Setelah ECT, Charles Colson dan J. I. Packer juga ada menanda-tanggani "Resolutions for Roman Catholic and Evangelical Dialogue" [1] dan selanjutnya "The Gospel of Jesus Christ: An Evangelical Celebration" [2].  Yang pasti satu, Charles Colson dan J. I. Packer masih pegang Sola Fide.  Dan bagi saya sendiri, Sola Fide sama sekali tidak bisa dikompromi, karena tanpa itu manusia pada akhirnya harus tergantung oleh kesalehan sendiri (self-righteousness), dan Galatia 3 mengatakan sangat jelas.  Rasul Paulus ada mengatakan tentang diri dia sendiri demikian:  "Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik.  Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat" (Roma 7:18-19).  Kalau Rasul Paulus saja bisa mengatakan itu, apakah diri kita sendiri bisa lebih baik daripada Rasul Paulus?  C. S. Lewis mengatakan sesuatu yang intinya tidak beda:  Tidak ada seseorang yang tau seberapa jahat diri dia sendiri sampai dia berusaha dengan sepenuh kemampuannya untuk menjadi baik.  ("No man knows how bad he is until he tries very hard to be good.")  Kalau kerjaan baik kita ataupun motif kita untuk mengerjakan yang baik harus disucikan oleh darah Yesus, kita mau tergantung apa lagi kalau bukan Sola Fide?  Bapa-bapa Reformasi sangat jelas mengerti maksudnya Sola Fide, dan Council of Trent juga sangat jelas mengerti maksudnya Sola Fide sampai-sampai mereka mengutuk.  Apakah scholars (termasuk yang mendukung New Perspective on Paul) di jaman sekarang jauh lebih mengerti masalah Justification sebenarnya daripada bapa-bapa Reformasi dan bapa-bapa Katolik yang mewakili Council of Trent? 

 

Namun demikian, tidak semua orang Katolik tidak percaya Sola Fide, dan salah satunya yang tidak mengikuti ajaran Katolik ortodoks adalah Joseph Fitzmyer (http://en.wikipedia.org/wiki/Joseph_Fitzmyer); disisi lain, tidak semua yang mengaku Kristen percaya Sola Fide.  Yang pasti satu, orang-orang Katolik dan orang-orang Kristen bukanlah musuh, sama seperti orang-orang Kristen tidak seharusnya bermusuhan dengan orang-orang karena mereka percaya ajaran Islam, Buddha, Hindu, atau agama yang lainnya.  Tetapi untuk mengatakan apakah mereka seiman, dan jawaban dari ajaran Kristen adalah "TERGANTUNG berdasarkan 5 Solas (termasuk Sola Fide) atau bukan".  Bukankah "iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus [yang tentunya adalah Injil]" (Roma 10:17, words in brackets added)?  Kalau Injil sudah dikutuk (anathematized) oleh ajaran Katolik sejak jaman Council of Trent dan yang masih berlaku sampai hari ini, mau ada iman atau seiman dari mana?

 

FOOTNOTE:

[1]  http://www.angelfire.com/ky/dodone/Packer.html ada dua bagian.  Yang bagian pertama adalah penjelasan J. I. Packer, kenapa dia tanda tanggan ECT.  Bagian kedua, setelah kejadian ECT, adalah "Resolutions for Roman Catholic and Evangelical Dialogue" yang Packer bukan hanya tanda tangan tetapi juga yang dia dan Michael Horton susun naskahnya, sekalian untuk menjelaskan posisi dia bahwa dia belum meninggalkan Sola Fide (ini sangat jelas di point kedua dalam Resolutions ini).

[2]  "The Gospel of Jesus Christ: An Evangelical Celebration" bisa dibaca dari website2 berikut:

      a)  http://www.cephasministry.com/john_ankerberg.html

      b)  http://www.a-voice.org/discern/gospeljc.htm

      c)  http://www.ligonier.org/thegospel_affirmations.php

Comments
Add NewSearch
indyta - humor but seriously   | 12-01-2009 18:07:40
if aq c nggak bela mna yg bener n mana yg salah,tp kita sbg murid Tuhan Yesus [ bukan sekedar pengikut,krn if pengikut bs ikut 2 an donk ] kita sbg org Kristen yg sdh tau Firman Tuhan g usah resah gelisah dg hal yg begituan { spt diatas },pokoknya kita hidup sesuai F T { Alkitab } makanan kita sehr hr,kt percaya 100 % isi Alkitab ya n Amien, ya nggak,cuman yg kadang bikin aq ketawa,Tuhan Yesus kan ngajarin n mengharuskan setiap org yg percaya kpd Dia,hrs dibaptis dlm nama Bapa,Putra dan Roh Kudus ,alias Baptis selam,tp koq saudara 2 kita cm d cipratin air {percik },dg kata lain wong disuruh mandi koq cm cuci muka,itu tuh yg bikin aq geli,itu hanya secuil perbedaan diantara perbedaan yg ditulis diatas [Sola Fide ],yg jelas kita g usah ribut deh,persiapkan diri aja sebaik 2 nya tuk menyambut kedatangan Tuhan Yesus yg ke 2x tuk menjemput kita semua ,Maranatha Tuhan Yesus memberkati
Write comment
Name:
Subject:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Security Image
Please input the anti-spam code that you can read in the image.
 
< Prev   Next >