Hamba Tuhan
Login





Lost Password?
No account yet? Register
Find Us on Facebook
Shalom, bagaimana kabar Anda hari ini? Silahkan login atau register.
Pengampunan Yang Tiada Batas PDF Print
User Rating: / 4
PoorBest 
Monday, 02 February 2009

Saya adalah anak keempat dari empat bersaudara. Sebagai anak bungsu dalam keluarga, perhatian dari orang tua dan saudara-saudaraku selalu saya dapatkan.

Saya dibesarkan di Medan. Kehidupan ekonomi keluarga kami bisa dikatakan mapan.

Dengan jabatan papa disalah satu instansi keuangan pemerintah, membuat saya dan ketiga saudara yang lain tidak pernah merasa berkekurangan.

Papa dan mama termasuk pelayan Tuhan di HKBP. Setiap hari Minggu, kami sekeluarga selalu bersama-sama ke gereja. Selain itu, saya juga disekolahkan di sekolah Kristen.
Dengan alasan supaya saya mendapat pendalaman Firman Allah yang lebih mendalam.

Menginjak SMA, perhatian yang terlalu overprotected membuat saya ingin pergi jauh dari Medan. Saya bertekad untuk melanjutkan pendidikan di pulau Jawa saja.
Sebab dalam pemikiran saya saat itu, dengan menjadi anak kost saya bisa bebas melakukan apa saja.

Selepas saya menerima STTB saya mengutarakan keinginan untuk melanjutkan pendidikan ke luar kota, tepatnya di Bandung.


Pada awalnya orang tua menolak dengan tegas keinginan saya itu, mereka lebih senang saya mengambil kuliah kedokteran di Medan seperti saudara saya yang lain.
Tapi karena saya sudah bertekad untuk kost, semua keinginan orang tua tidak saya turuti. Sekitar dua bulan saya membujuk kedua orang tua agar mengabulkan keinginan saya tersebut.


Akhirnya, mereka memenuhi keinginan saya dengan berat hati. Dan saya juga berjanji, akan segera kembali ke Medan begitu saya sudah menyelesaikan kuliah.
Dan mereka mengajukan sebuah syarat, saya harus tinggal dirumah orangtua mama di Cimahi.
Dan saya menyanggupinya.

Sesampai saya di Bandung, saya melanggar janji yang sudah saya ucapkan sebelum berangkat dari Medan.


Saya tidak mau tinggal dirumah orang tua mama. Saya lebih memilih tinggal di kost-kost an mahasiswa di sekitar lingkungan kampus.

Mama yang mengetahui hal itu tidak bisa berbuat apa-apa. Mama hanya berpesan agar saya tidak terjerat dalam pergaulan bebas. Saat itu, saya meremehkan nasehat mama dalam hati.

Tinggal di kost an membuat saya sangat bahagia. Untuk pertama kalinya saya bisa menikmati  kebebasan. Dan untuk menyibukkan diri, saya mengikuti kegiatan kepemudaan di gereja.
Karena saya sangat aktif dalam perkumpulan tersebut, saya pun diangkat menjadi ketua.
Sebuah jabatan yang menurut saya sangat berat, karena saya belum pernah menjadi ketua perkumpulan seperti itu sebelumnya.

Tahun pertama dan tahun kedua, kuliah saya berjalan dengan lancar. Jurusan Tehnik Industri yang saya ambil, tidak pernah mengalami masalah yang berarti.

Di kampus, bisa dikatakan saya menjadi incaran para mahasiswi. Wajah yang tampan ( menurut teman-teman mahasiswa ) dan juga keadaan ekonomi keluarga yang mapan, membuat banyak teman mahasiswi yang ingin mengenal saya lebih dekat.


Namun, karena saya sangat disibukkan dengan urusan pelayanan digereja dan saya juga belum pernah berpikiran untuk menjalin hubungan dengan lawan jenis, membuat saya mengabaikan perasaan mereka.

Tahun ketiga, saya berkenalan dengan seorang gadis di kereta api. Sebut saja nama gadis itu Rena.
Saat itu saya ingin mengunjungi nenek di Cimahi. Dari Bandung saya naik kereta api, dan di dalam kereta api itulah saya bertemu dengan Rena.
Dan akhirnya terjadilah obrolan singkat. Rena berumur lebih tua setahun dari saya.
Dan ia juga sudah bekerja di salah satu plaza di dekat kampus saya sebagai pramuniaga.
Kemudian kami saling bertukar nomor telepon.

Dua minggu setelah pertemuan itu, tiba-tiba Rena datang ke tempat kost saya.
Ia mengetahui alamat kost saya dari teman-temanku di kampus.
Sejak saat itu, Rena semakin sering datang ke kost saya. Rena begitu memperhatikan saya. Hingga suatu hari, kami menjadi sepasang kekasih.

Hubungan saya dan Rena semakin dekat. Dan karena keadaan lingkungan yang bebas dan waktu berpacaran kami yang sering didalam kamar, membuat kami sering melakukan hubungan badan yang  tidak sepantasnya kami lakukan.

Saat itu, saya sadar saya telah melakukan dosa besar. Tapi saya tidak memperdulikan itu semua.

Saya semakin jauh dari Tuhan. Saya jarang masuk mengikuti kuliah, tidak pernah kegereja, menjauh dari teman-teman satu pelayanan di perkumpulan gereja.

Setiap hari saya lewatkan dengan melakukan kegiatan seks dengan Rena. Dan lebih parahnya lagi, selain melakukan hubungan seks dengan Rena, saya sering melakukan hubungan intim dengan orang lain. Saat itu saya benar-benar menjadi seseorang yang maniak seks.

Karena terlalu sering melakukan hubungan badan, suatu hari Rena datang ke kost saya dengan menangis.
Rena hamil...
Saat itu perasaan sangat bingung, takut, kecewa berbaur menjadi satu.
Dan untuk menenangkan perasaanya, saya pun berjanji untuk menikahi Rena secepatnya.

Saya memutuskan untuk memberi tahu kabar tersebut pada orang tua saya di Medan.
Mendengar kabar itu, mamaku jatuh sakit dan sering tidak sadarkan diri.
Keadaan papa juga tidak lebih baik dari mama. Saya semakin stress.
Orang tua Rena mendesak kami untuk segera menikah.

Seminggu setelah kejadian itu, orang tua saya datang dari Medan ke kost. Saat itu juga, saya dipaksa untuk pulang ke Medan. Saya sebenarnya menolak, karena saya tidak mau  melepas tanggung jawab begitu saja. Tapi melihat kondisi mama yang sakit-sakitan, dan paksaan dari keluarga mama yang lain membuat saya luluh.


Dengan berat hati saya tinggalkan Bandung tanpa sempat memberitahukan Rena.

Tujuh bulan lamanya saya di Medan. Selama di Medan, setiap hari Rena menelepon saya sambil menangis. Perasaan bersalah terus menghantui saya. Akhirnya suatu pagi, saya mengajukan keinginan untuk kembali melanjutkan kuliah saya yang hanya tinggal sedikit lagi.


Tapi orang tua tidak mengijinkan. Namun saya terus membujuk mereka, hingga akhirnya orang tua saya memberi ijin untuk menyelesaikan kuliah secepatnya.

Dua hari kemudian saya kembali ke Bandung. Saya tinggal di tempat kost teman saya yang lain.
Saya tidak memberi tahu Rena tentang kedatangan saya ke Bandung. Saya terus bersembunyi sambil berusaha untuk menyelesaikan kuliah secepatnya.

Jani, salah satu teman baik saya berkata : " Rena sering datang ke tempat kost loe yang  lama, Wan. Kasihan dia, terus-terusan nyariin elo. Kandungannya dah makin gede. Sampe kapan loe mau bersembunyi dari tanggungjawab. Itu anak elo, inget itu..!!!"

Kata-kata Jani membuat saya tersadar. Saya tidak boleh lari dari tanggungjawab. Akhirnya, ketika Rena mencari-cari saya di kampus, saya memberanikan diri untuk bertemu dengan dia.

Seminggu kemudian saya datang kerumah orang tua Rena. Dan saya mengutarakan keinginan saya untuk  menikah secara Kristen, namun orang tua Rena tidak mau. Mereka ingin kami menikah secara Islam.

Padahal, saat itu sudah ada gereja yang mau memberkati pernikahan kami. Tapi orang tua Rena  tetap bersikukuh tidak ada pernikahan secara Kristen.

Saat itu saya merasa hampir gila!

Desakan orang tua Rena terus menerus menekan saya. Belum lagi kandungan Rena yang semakin membesar dan sudah tidak bisa disembunyikan lagi, membuat saya jadi gunjingan tetangga.

Akhirnya, saya memutuskan untuk menikah secara Islam. Dan orang tua Rena menyambut keputusan saya itu dengan senang hati.

Malam sebelum saya akad nikah, saya minta ampun sama Tuhan. Saya berdoa dan terus menangis.

Perasaan jijik dan tidak berharga merasuki hati saya. Saya benar-benar malu dan berdosa telah mendukakan hati Tuhan.

Saya tidak tahu berapa lama saya minta ampun sama Tuhan, karena paginya saya sudah dibangunkan  oleh orang tua Rena agar segera bersiap-siap untuk melaksanakan akad nikah.

Sesaat sebelum akad, saya harus mengucapkan dua kalimat syahadat. Meskipun mulut saya mengucapkan kalimat itu, dalam hati saya terus meminta ampun pada Tuhan.

Akhirnya akad nikah kami selesai. Tanpa ada acara pesta, saya langsung mengambil barang-barang pribadi saya di kost an untuk tinggal dirumah keluarga Rena.


Sebulan kemudian, Rena melahirkan anak kami. Seorang anak laki-laki yang sebut saja sebagai Oba.

Orangtua saya di Medan, tidak pernah saya beritahu tentang rumah tangga yang sudah saya jalani.


Namun, setelah beberapa bulan saya tidak pernah lagi meminta uang bulanan, mereka curiga kalau  saya masih menjalin hubungan dengan Rena.

Dan akhirnya kecurigaan mereka terbukti. Mereka mendapat kabar dari saudara mama yang di Bandung kalau saya sudah menikah secara Islam.

Kondisi kesehatan orang tua saya semakin drop. Terutama mama, mama terus menerus menangis di dalam kamar sambil menyesali tingkah laku saya yang semakin jauh dari Tuhan. Orang tua saya juga sudah berjanji tidak akan menerima Rena dan Oba sebagai bagian dari keluarga besar kami.

Orang tua Rena terus menerus mengajak saya sholat. Tapi saya menolak, setiap hari Minggu saya beribadah kegereja. Saya terus meminta ampun kepada Tuhan.

Masalah terus menghampiri saya, saya mendapat surat peringatan dari kampus agar segera menyelesaikan kuliah saya yang sudah hampir menginjak tahun ke tujuh. Dengan bantuan Jani, setiap hari saya pergi ke perpustakaan untuk menyelesaikan kuliah saya.


Dan puji Tuhan, saya bisa menyelesaikan semuanya walaupun memakan waktu hampir tujuh tahun.

Setelah selesai diwisuda, mama berkata : " Ingat janjimu sama mama, Wan. Kamu janji apa sebelum kamu pergi ke Bandung. Mama dan papa juga sudah berpikir ulang, kalau Rena mau diajak ke Medan dan mau belajar menjadi seorang Kristen, mama mau menerima mereka sebagai bagian dari keluarga kita "

Kata-kata mama membuat saya sangat bahagia. Namun ketika saya mengutarakan hal itu, Rena menolak.


Rena menolak menjadi seorang Kristen dan dia juga menolak untuk saya ajak ke Medan.
Saat itu Rena memaksa agar saya tidak meninggalkan dia dan tetap di Bandung saja menjadi seorang mualaf.

Saya menolak mentah-mentah. Saya tidak mau mengecewakan Tuhan dan orang tua saya lagi. Karena Rena tidak mau ikut saya ke Medan, orang tua Rena memaksa saya menceraikan anaknya.

Saya menyanggupi permintaan keluarga Rena. Saya menjatuhkan talak tiga. Dan kamipun resmi berpisah. Hak asuh Oba berada di tangan Rena.

Setelah semua masalah diselesaikan, saya pulang ke Medan dan bertekad untuk memulai hidup baru. Rena masih sering menghubungi saya. Dan saya mengambil keputusan untuk mengganti nomor telepon dan pergi dari kota Medan.

Hari ini, tepat tiga tahun sudah saya meninggalkan Medan. Saya memulai semuanya di kota P ini. Di sini, saya terus aktif dalam pelayanan. Saya menerima Kristus kembali.
Dan di kota P ini juga saya menemukan seorang gadis, sebut saja namanya Viani.
Puji Tuhan, Viani dan keluarganya mau menerima saya apa adanya.
Puji Tuhan, Viani sudah dikirimkan untuk saya.

"Bapa selalu memberi anakNya kesempatan untuk memperbaiki semua kesalahan yang telah kita perbuat. Allah itu Kasih dan Adil. Kamu mau kembali ke jalanNya, semua malaikat disorga menyambutmu dengan sorak sorai. Aku yang manusia biasa, kenapa tidak bisa menerima semua kekurangan dan masa lalumu? Yang penting buatku, kamu harus bisa menjadi manusia baru dan meninggalkan kesalahan yang dulu itu sudah cukup"

Itulah jawaban Viani, setiap saya bertanya mengapa dia mau menerimaku. Padahal kalau mau jujur, dulu saya minder untuk berusaha merebut hatinya. Karena buat saya Viani adalah gadis yang menarik dan banyak laki-laki yang juga berusaha untuk merebut perhatiannya.

Selain aktif sebagai guru sekolah minggu, Viani juga aktif di perkumpulan kepemudaan. Dia selalu mengajak saya  untuk ikut melayani Tuhan bersama-sama.

Puji Tuhan, kalau tidak ada halangan, tahun depan kami akan melangsungkan pernikahan suci didepan Kristus. Saya mohon doanya.

Saat ini, saya tidak tahu dengan apa saya harus berterima kasih pada Tuhan. Tuhan telah membuang dosa saya jauh kedalam tubir laut yang paling dalam. Keselamatan dan pengampunan telah saya terima dari Dia.


Meskipun saya manusia berdosa, Tuhan selalu memberi kesempatan untuk memperbaiki hati yang hancur karena dosa.


Terimakasih Tuhan, terima kasih buat semua pengampunanMu yang memulihkan hidupku.

Comments
Add NewSearch
Linda Campell - Beberapa Kisah   | 17-02-2009 22:24:59
Kalau membaca kisah ini,disini ada beberapa kemiripan dari beberapa kisah yaitu :
1.kisah anak yang hilang ( Lukas 15;11-21) kemiripannya sama-sama: anak yang bungsu, anak orang berada, jatuh dalam dosa dan achirnya bertobat.
2. Kemiripan yang lain nya sama dengan kisah Samson dan Delilah. Samson tidak perduli pada waktu dia menikah dengan wanita Filistine, padahal Firman Tuhan mengatakan terang tidak mungkin bisa bersatu dengan gelap, sehingga di achir hidupnya dia harus menanggung malu dan hinaan, Allah masih memberikan kesempatan walaupun hampir terlambat dan dia masih sempat bertobat.
3.Oba itu bagaikan Ismail karena lahir dari Hagar.., tetapi Abraham tetap mengasihi Ismail, karena Abraham tahu bukan kesalahan Ismail kalau sampai dia terlahir didunia, walaupun tentunya ada perbedaannya setelah kelahiran Ishak.
Untuk anda dan Viani kalau kalian sudah merasakan hidup dalam Kasih karunia Tuhan maju terus dengan pandangan kedepan karena Tuhan selalu berada didepan kalian, jangan menoleh lagi kekanan dan kekiri, apalagi jangan seperti istrinya Lot, sekali menoleh kebelakang sehingga kutuk yang didapat. Selamat melayani Tuhan...Tuhan Yesus selalu menyertai kalian.
Write comment
Name:
Subject:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Security Image
Please input the anti-spam code that you can read in the image.
 
< Prev   Next >