Hamba Tuhan
Login





Lost Password?
No account yet? Register
Find Us on Facebook
Shalom, bagaimana kabar Anda hari ini? Silahkan login atau register.
Pohon Natal Dan Kelahiran Natal PDF Print
User Rating: / 7
PoorBest 
Thursday, 10 December 2009

PENANYA: Apakah yang dikatakan di dalam Alkitab tentang hari Natal?

MR. C: Alkitab tidak memerintahkan kita untuk memperingati hari kelahiran Kristus. Natal bukanlah suatu hari raya ibadah, namun Alkitab juga tidak berkata bahwa kita seharusnya tidak merayakan hari kelahiran Kristus.

Natal adalah saat yang indah untuk memberitakan pada dunia bahwa Kristus sang Juruselamat telah dilahirkan. Hari Natal tanggal 25 Desember bukanlah hari tepatnya Kristus dilahirkan, kita tidak mengetahui tanggalnya yang tepat, tetapi Kristus mungkin dilahirkan sekitar awal Oktober berdasarkan informasi yang kita peroleh dari Alkitab.

Bagaimanapun juga tanggal 25 Desember adalah hari yang baik untuk merayakan kelahiran Kristus, karena hari itu dekat dengan saat ketika siang hari mulai bertambah panjang di bagian bumi sebelah Utara, dimana kebanyakan orang di dunia ini tinggal.

Natal adalah suatu hari dimana kita bisa menikmati persekutuan bersama, bersuka-cita, menyanyikan lagu-lagu pujian bagi Allah, saling bertukar hadiah, dll. Tetapi kita harus berhati-hati dalam memberikan hadiah. Kristus telah memberikan anugrah keselamatan yang sangat indah, jadi kita saling bertukar hadiah satu sama lain karena kita bersuka-cita dengan apa yang telah Allah karuniakan kepada kita.

Dan orang percaya yang sejati tidak mau berurusan dengan Sinterklas. Dunia berusaha untuk menempatkan Santa Klaus sebagai pengganti Allah Bapa. Anak-anak diberitahukan bahwa, "Jika kamu tidak baik, Sinterklas tidak akan memberikan hadiah yang bagus buat kamu." Tetapi Alkitab berkata di Yakobus 1:17: "Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna [yaitu keselamatan], datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran."

Jadi yang pasti kita tidak mau berurusan dengan Sinterklas. Sedangkan mengenai pohon Natal, hal itu terserah anda. Tradisi menghias pohon mungkin berasal dari kebiasaan penyembahan berhala, tetapi pohon cemara itu sangat bagus, karena sebenarnya pohon itu menunjuk ke atas, dan Allah ada diatas, dan cabang-cabangnya melebar ke samping-sampingnya. Kasih kita pertama-tama adalah untuk Allah dan kemudian untuk dunia. Ketika kita merayakan Natal, hal yang penting adalah, "Apakah yang terjadi di dalam hati kita?"


OPEN FORUM 121399 L
SELAMAT DATANG DI FORUM TERBUKA

PENANYA: Saya mengerti bahwa Natal adalah hari peringatan kelahiran Kristus, meskipun kita tahu bahwa Kristus tidak dilahirkan pada tanggal itu. Dia dilahirkan kira-kira mendekati masa panen. Namun, saya merasa bahwa semua yang berkaitan dengan Natal itu keliru. Misalnya yang dimaksudkan di Yeremia 10 tentang "cara penyembahan berhala" mungkin berkaitan dengan pohon Natal.

MR. C: Yeremia pasal 10 tidak berbicara mengenai pohon Natal. Ayat ini berbicara tentang pembuatan dan penyembahan berhala-berhala. Jikalau kita menghias pohon Natal, lalu sujud menyembahnya atau beribadah padanya, maka tentu saja itu adalah salah.

Di dalam Alkitab tidak perintah untuk merayakan Natal, dan juga tidak ada perintah untuk tidak merayakan Natal. Alkitab berkata bahwa "segala sesuatu yang tidak berdasarkan iman adalah dosa" (Roma 14:23). Jadi, jikalau ada orang yang merasa yakin bahwa dia tidak boleh merayakan Natal, maka sebaiknya jangan merayakannya, dan tidak boleh ada orang yang mengkritik dia. Disisi lain, jika ada seseorang yang ingin merayakan Natal, juga tidak boleh ada yang mengkritik dia.

For the earth shall be filled with the knowledge of the glory of the LORD, as the waters cover the sea.  (Hab 2:14)

 

 

OPEN FORUM 010501 E
SELAMAT DATANG DI FORUM TERBUKA

PENANYA: Saya mempunyai sebuah pertanyaan mengenai hari Natal. Alkitab memang menceritakan kepada kita tentang kelahiran Kristus tetapi Alkitab sama sekali tidak pernah menyuruh kita untuk merayakannya. Menurut saya, hari Natal sudah menjadi seperti perayaan agama kafir.

MR. C: Baiklah, ini memang tergantung dari siapa yang melakukannya. Tidak ada perintah untuk merayakan Natal. Juga tidak ada perintah yang melarang merayakan hari Natal. Yang pasti, surga merayakan kelahiran Kristus. Ketika para gembala berada di padang, mereka melihat sekumpulan besar malaikat yang merayakannya dengan bernyanyi dan memuji Allah. Di Lukas 2:11-14 kita baca:
"Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan." Dan tiba-tiba tampaklah bersama-sama dengan malaikat itu sejumlah besar bala tentara sorga yang memuji Allah, katanya: "Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya."

Saat itu merupakan saat perayaan yang besar. Jadi, memang tidak salah kalau kita merayakan Natal walaupun Alkitab tidak memberitahukan kepada kita kapan tepatnya Yesus dilahirkan.

Memang benar, kita hidup di dalam dunia yang sangat berdosa. Dan dunia ingin menjadikan perayaan Natal ini untuk memuaskan hawa nafsu mereka sendiri. Itulah sebabnya kita melihat adanya Sinterklas atau pesta-pesta mabuk, misalnya. Dengan demikian, orang-orang percaya yang sejati harus berhati-hati agar tidak menjadi rusak dengan mengikuti kebiasaan-kebiasaan dunia ini, jadi kita harus sedikit lebih waspada agar kita terus mengarahkan pandangan kita kepada Tuhan Yesus Kristus.

Pada saat kita mengundang makan malam bagi orang-orang yang kita kasihi, baik itu keluarga atau teman, maka ini merupakan saat yang baik untuk menceritakan mengenai apa yang terjadi pada saat Natal, dan perhatian kita terpusat hanya untuk itu.

PENANYA: Namun ada suatu upacara kafir pada tanggal 25 Desember untuk memperingati siang hari yang paling panjang di musim dingin.

MR. C: Ada suatu pertanyaan yang perlu diajukan, kapankah tepatnya Yesus dilahirkan? Apakah kita mengetahui tanggalnya secara pasti? Jawabannya adalah tidak. Tidak ada petunjuk yang cukup dari Tuhan didalam Alkitab, sehingga sampai sejauh ini, tidak ada seorang pun yang bisa menentukan tanggal yang pasti dari hari kelahiran Yesus Kristus. Namun demikian, berdasarkan petunjuk-petunjuk Alkitab, memang kemungkinan besar Dia dilahirkan pada suatu waktu selama minggu terakhir dari bulan September atau mungkin pada minggu pertama pada bulan Oktober. Mungkin pada tanggal-tanggal sekitar itulah Dia dilahirkan.

Yang kedua, ada petunjuk-petunjuk tidak langsung yang sangat kuat yang mengarah pada tahun 7 Setelah Masehi sebagai tahun kelahiran Kristus, tetapi informasi ini juga tidak mutlak benar. Tetapi memang ada bukti-bukti tidak langsung yang menunjuk kepada hal ini. Namun demikian, meskipun belum diketahui tanggalnya yang pasti, pada zaman dahulu gereja telah mengambil keputusan untuk merayakan kelahiran Kristus, dan tanggal 25 Desember yang dipilih sebagai harinya.

Dan ini merupakan tanggal yang bagus untuk merayakan kelahiran Kristus, karena toh kita tidak mengetahui tanggal pastinya. Karena di belahan bumi bagian utara, di mana sebagian besar orang di dunia hidup di sana pada masa itu, hari itu adalah saat di mana siang hari mulai bertambah panjang lagi, sebab mulai tanggal 21 Desember, siang hari tidak lagi bertambah pendek, dan mulai bertambah panjang, dengan demikian, 25 Desember adalah tanggal yang tepat untuk dipilih karena Kristus adalah "Terang Dunia" (Yohanes 8:12), dan Kristus disebut sebagai Surya Kebenaran (Maleakhi 4:2). Dia juga disebut sebagai Bintang Timur yang terbit dengan kesembuhan pada sayapnya (Matius 2:2, 2 Petrus 1:19, Wahyu 22:16). Semua ungkapan ini cocok dengan keadaan siang hari yang bertambah panjang pada saat Natal.

For the earth shall be filled with the knowledge of the glory of the LORD, as the waters cover the sea.  (Hab 2:14)

 

Renungan: Natal Di Cardiff

Hari mulai gelap. Udara Desember yang dingin menusuk tulang. Saya bergegas meninggalkan kampus menuju penginapan. Di dekat sebuah bangunan berbata merah tiba-tiba seorang pria tua, kurus, dan berpakain lusuh menghadang. Tanpa kata-kata dia menyodorkan secarik kartu seukuran kartu nama. Saya menerimanya dan tanpa melihatnya lalu memasukkan kartu itu ke kantong jaket.

Saya sedang berada di Cardiff, sebuah kota pinggir laut di New South Wales, Inggris, bersama empat wartawan Indonesia. Kami mendapat beasiswa dari British Council dan Thomson Foundation untuk belajar jurnalistik di Cardiff University.

Sebelum berangkat ke Cardiff, istri saya memasukkan sebuah alkitab ke dalam koper dan berpesan agar setiap Minggu, terutama pada saat Natal nati, saya tidak lupa meluangkan waktu untuk ke gereja. Waktu itu saya hanya mengangguk. Basa-basi. Supaya istri senang. Tapi pikiran dan hati sama sekali tidak ke sana. Maka tak heran jika Minggu demi Minggu, selama di Cardiff, kitab suci itu tetap tersimpan rapih di dalam koper.

Waktu terus berlalu. Saya sudah lupa pada kartu yang diberikan orang tua berpakaian lusuh itu, sampai pada suatu hari, menjelang Natal, kartu itu terjatuh dari kantong jaket. Isinya ternyata ajakan untuk hadir di perayaan Natal. Di situ juga tertera nama dan alamat gereja. Kartu itu lalu saya masukkan lagi ke kantong jaket. Hati sama sekali tidak tergerak oleh ajakan di kartu tersebut.

Tiga hari menjelang Natal datang kabar bahwa teman-teman dari BBC London akan berkunjung ke Cardiff. Mereka ingin menengok kami. Perjalanan dari London ke Cardiff dua jam dengan kereta api. Mereka juga berniat menghabiskan liburan Natal di kota kami.

Tanggal 24 Desember, jam lima sore. Langit gelap. Salju turun tebal sekali. Bahkan sebagian berbentuk bongkahan es. Angin kencang menghempaskan ranting-ranting pohon. Pucuk-pucuk cemara bergerak liar dipermainkan angin. Dari balik kaca jendela kamar, saya melihat badai menghantam Cardiff. Menurut pengelola tempat kami tinggal, itulah pertama kali kota pantai tersebut diguyur salju.

Padahal sore itu saya sudah bersiap-siap hendak ke gereja bersama teman-teman dari BBC London. Kemarin mereka mengajak saya untuk ke gereja pada malam Natal. Karena sulit menolak, saya menganjurkan kami pergi ke gereja yang alamatnya tertera di kartu yang saya simpan itu. Menurut pengelola tempat saya menginap, letak gereja tidak terlalu jauh dari tempat kami tinggal.

Tapi sore itu badai salju tak kunjung berhenti. Saya sudah berpakain rapih dan bersiap-siap berangkat. Tapi di luar tidak ada tanda-tanda badai bakal berhenti. Ada perasaan yang aneh mulai menggelayut di hati. Tiba-tiba saya rindu untuk ke gereja. Boleh jadi itu perasaan bersalah karena selama di Cardiff tidak sekalipun saya ke gereja. Saya lalu ingat pesan istri saya. Tapi, langkah saya ke gereja kini terhalang badai salju.

Dalam suasana hati galau itu saya lalu berlutut dan berdoa. “Tuhan, jika malam ini Engkau memang menghendaki aku ke gereja, tolong hentikanlah badai agar kami bisa segera berangkat.” Tuhan maha besar. Hanya dalam hitungan detik, sesudah saya menutup doa, dari balik jendela saya melihat pucuk-pucuk pohon cemara terdiam kaku. Tak ada sedikit pun angin yang membuatnya doyong. Salju berhenti total. Langit berubah cerah. Merasa tidak percaya pada penglihatan dari balik jendela, saya keluar ke jalan. Ajaib. Semua tenang. Terasa damai. Tak ada sejumput salju pun jatuh. Saya menghela nafas panjang. “Terima kasih Tuhan. Terima kasih.”

Kami lalu bergegas jalan kaki, dalam dinginnya udara, menuju gereja. Tidak ada taksi, tidak ada bus. Semua orang, termasuk supir bus dan supir taksi, sudah sibuk bersiap-siap menyambut malam Natal bersama keluarga masing-masing. Tapi kami bersemangat.

Saya terkejut ketika sampai di gereja yang kami tuju. Ternyata itu bangunan berbata merah yang hampir setiap hari saya lalui saat pulang dan pergi ke kampus. Bentuknya seperti gedung olahraga. Dari luar sama sekali tidak seperti gereja. Di depan gedung inilah orang tua kurus berpakaian kumal itu memberi saya kartu.

Pengurus gereja menyambut kami dengan hangat. Apalagi ketika tahu kami dari Indonesia. Bahkan pemandu acara meminta seluruh jemaat yang hadir malam itu memberi tepuk tangan untuk kami. Selama prosesi Natal, saya tersenyum sembari memegang alkitab pemberian istri. Saya membayangkan istri saya pasti bahagia jika mengetahui betapa suaminya, pada malam Natal, akhirnya ke gereja.

Belakangan saya baru menyadari bahwa kejadian demi kejadian waktu itu merupakan rangkaian yang tidak terpisahkan. Mulai dari kartu yang diberikan orang tak dikenal, kedatangan teman-teman BBC London yang terkesan mendadak, sampai badai yang berhenti tiba-tiba. Semua seakan berjalan tanpa ada kaitan satu sama yang lain. Tetapi semua itu ternyata bukan kebetulan melainkan karena rencana-Nya. Melalui rencana yang tidak bisa diduga, Tuhan menggiring saya ke gereja pada malam Natal itu. (fw.elgin@cb..)

Comments
Add NewSearch
Write comment
Name:
Subject:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Security Image
Please input the anti-spam code that you can read in the image.
 
< Prev   Next >